Siswa kelas 2 SDN Waluya 02 Cikarang Utara, Atha Fathurrahman, meraih penghargaan Gold dan Diamond dalam IMEC Olympiad 2025/2026 bidang Matematika di Kuala Lumpur, Malaysia.
Galery Foto : Atha Fathurrahman siswa SDN Waluya 02 Bekasi meraih penghargaan matematika internasional di Malaysia.
Dari ketertarikan berhitung sejak usia dini hingga tampil di Kuala Lumpur, perjalanan Atha Fathurrahman menjadi bukti bahwa minat anak dapat berkembang menjadi prestasi ketika mendapat dukungan yang tepat. Berikut 5 Fakta Atha, Siswa SD Bekasi yang Raih Emas Olimpiade Matematika Internasional
-
-
Siswa kelas 2 SD
Atha Fathurrahman merupakan siswa SDN Waluya 02 Cikarang Utara.
-
Raih Gold di Malaysia
Atha berhasil meraih penghargaan Gold dalam IMEC Olympiad 2025/2026.
-
Dapat kategori Diamond
Ia juga memperoleh kategori Diamond setelah mampu menjawab sekitar 90 persen soal dengan benar.
-
Mulai berkompetisi sejak TK
Atha telah mengikuti kompetisi matematika sejak jenjang taman kanak-kanak.
-
Didukung keluarga dan sekolah
Minat Atha dikembangkan melalui dukungan keluarga dan pembinaan sekolah.
-
Atha Fathurrahman, siswa kelas 2 SDN Waluya 02, menorehkan prestasi internasional setelah meraih penghargaan Gold dan Diamond pada IMEC Olympiad 2025/2026.
Kab Bekasi, Mediarjn.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kabupaten Bekasi di tingkat internasional. Atha Fathurrahman, siswa kelas 2 SDN Waluya 02, Kecamatan Cikarang Utara, berhasil meraih penghargaan Gold dalam IMEC Olympiad 2025/2026 bidang Matematika.
Kompetisi tersebut merupakan ajang matematika internasional yang mempertemukan peserta dari berbagai negara. Babak final digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30 Mei 2026.
Tak hanya mendapatkan kategori Gold, Atha juga memperoleh kategori Diamond setelah mampu menjawab sekitar 90 persen soal dengan benar.
Atha Tak Kuasa Menahan Air Mata
Atha mengaku tidak menyangka namanya akan dipanggil sebagai peraih juara pertama. Ia bahkan sempat merasa tegang ketika pengumuman pemenang berlangsung.
“Senang. Waktu nama saya belum dipanggil, mulai dari juara Honorable Mention, juara dua, sampai akhirnya nama saya dipanggil, juara satu, saya sempat keluar air mata,” ujar Atha saat ditemui di SDN Waluya 02, Jumat (7/8/2026).
Bagi Atha, perjalanan mengikuti kompetisi tersebut menjadi pengalaman berharga karena untuk pertama kalinya ia berkesempatan mengikuti kompetisi matematika di luar negeri.
“Lombanya di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya berangkat naik pesawat bersama ayah, ibu, dan oma. Di sana sekitar tiga hari,” katanya antusias.
Lalui Seleksi Sebelum Tampil di Malaysia
Prestasi Atha tidak diraih secara instan. Menurut ayahnya, Rahman, Atha terlebih dahulu mengikuti sejumlah tahapan seleksi sebelum mendapatkan kesempatan tampil di babak internasional.
Proses tersebut dimulai dari pembinaan dan kompetisi secara daring hingga mengikuti tahapan penyisihan dan final.
“Awalnya kami ikut les di sebuah lembaga, kemudian Atha mendapatkan beasiswa. Dari sana dia mengikuti berbagai lomba secara online yang memang sudah masuk taraf internasional. Ada babak penyisihan dan final, jadi tidak langsung ikut kemudian mendapatkan juara,” jelas Rahman.
Dalam babak final di Malaysia, peserta berasal dari berbagai negara dan harus melewati persaingan yang cukup ketat.
Menurut Rahman, pencapaian Atha tidak hanya berhenti pada penghargaan Gold. Ia juga memperoleh kategori Diamond karena mampu menjawab sekitar 90 persen soal dengan benar.
“Untuk yang final di Malaysia kemarin, dia mendapatkan dua kategori, satu Gold dan satu Diamond. Diamond itu diberikan untuk penilaian jawaban yang mencapai 90 persen benar,” ungkapnya.
Minat Matematika Tumbuh Sejak Dini
Rahman mengatakan kemampuan Atha berkembang seiring dengan ketertarikannya terhadap matematika sejak usia dini. Keluarga tidak memaksanya mengikuti berbagai perlombaan, tetapi berusaha memberikan ruang agar minat tersebut berkembang secara alami.
Menurut Rahman, ketertarikan Atha awalnya muncul dari hal-hal sederhana, seperti planet dan benda berbentuk bulat. Dari ketertarikan tersebut, Atha kemudian mulai mengenal berbagai negara dan berkembang menjadi ketertarikan terhadap aktivitas berhitung.
“Kami sebagai orang tua tidak pernah memaksa. Awalnya dia tertarik dengan planet dan benda-benda bulat, kemudian mulai tertarik dengan negara dan dari situ mulai suka berhitung. Kami melihat minatnya, lalu kami carikan wadah yang sesuai,” tutur Rahman.
Sudah Ikut Kompetisi Sejak TK
Rahman menuturkan, Atha telah mengikuti kompetisi matematika sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Meski pada kompetisi nasional sebelumnya baru mendapatkan juara harapan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk keberanian dan kemampuan Atha untuk berkompetisi.
“Dari TK dia sudah ikut lomba matematika nasional. Memang waktu itu baru mendapatkan juara harapan, tetapi kami melihat memang sudah ada bakat dan ketertarikan,” katanya.
Menurut Rahman, kesempatan mengikuti kompetisi melalui Olympic Champ turut membantu menyalurkan minat dan kemampuan Atha.
Sekolah Tekankan Pentingnya Disiplin
Kepala SDN Waluya 02 Kecamatan Cikarang Utara, Eber, mengapresiasi prestasi yang diraih Atha.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak hanya dipengaruhi kemampuan akademik, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan, dukungan keluarga, serta keberanian siswa dalam mengembangkan potensi.
“Kalau ingin berprestasi, ya harus disiplin. Kalau ingin menjadi orang baik juga harus disiplin. Disiplin menjadi salah satu program sekolah dan kami terus menanamkan itu kepada anak-anak,” tegas Eber.
Pihak sekolah juga berupaya memberikan dukungan sesuai kemampuan yang dimiliki, termasuk memberikan apresiasi kepada siswa yang berhasil mengukir prestasi.
Prestasi Atha Jadi Inspirasi Siswa Lain
Eber mengatakan capaian Atha akan diperkenalkan kepada warga sekolah. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa lain untuk berani mengembangkan kemampuan sesuai minat masing-masing.
“Kami sangat mengapresiasi dan sangat luar biasa atas prestasi Atha. Ke depan, Atha dan siswa kami yang berprestasi lainnya akan kami perkenalkan di lingkungan sekolah. Tujuannya untuk mendorong anak-anak lain dan para orang tua agar semakin termotivasi,” pungkasnya.
Prestasi Atha sekaligus menjadi contoh bahwa potensi anak dapat berkembang ketika minat, pembinaan, dukungan keluarga, dan lingkungan sekolah berjalan secara beriringan.
(Red)








