Tim DLH Kota Bekasi bersama KP2C melakukan penelusuran aliran Sungai Cileungsi dan pengambilan sampel air untuk mengungkap dugaan pencemaran yang berdampak pada Kali Bekasi. (Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi).
Lima fakta penting mengenai investigasi dugaan pencemaran Kali Bekasi, mulai dari perubahan warna air, penelusuran lapangan, pengambilan sampel laboratorium, hingga komitmen pengawasan kualitas sungai.
-
-
DLH Bekasi Selidiki Dugaan Pencemaran Kali Bekasi
-
Air Sungai Cileungsi Berubah Hitam, Sampel Diambil
-
Investigasi Gabungan Telusuri Hulu Sungai Hingga Bogor
-
Hasil Uji Laboratorium Jadi Dasar Tindak Lanjut
-
DLH dan KP2C Perkuat Pengawasan Kualitas Air
-
DLH Kota Bekasi bersama KP2C mengambil sampel air dan menelusuri hulu Sungai Cileungsi untuk mengungkap sumber dugaan pencemaran.
Kota Bekasi, Mediarjn.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi bersama Komunitas Peduli Sungai Cileungsi dan Cikeas (KP2C) melakukan investigasi lapangan menyusul temuan perubahan warna air di aliran Kali Bekasi yang tampak hitam pekat. Investigasi dilaksanakan pada Rabu (22/7/2026) sebagai tindak lanjut atas laporan kondisi air di titik pertemuan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas yang menjadi hulu Kali Bekasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk menelusuri sumber dugaan pencemaran sekaligus memastikan kondisi kualitas air melalui pemeriksaan lapangan dan analisis laboratorium.
Penelusuran Dilakukan Hingga Wilayah Kabupaten Bogor

Tim gabungan yang terdiri dari KP2C dan Pasukan Katak DLH Kota Bekasi melakukan susur sungai mulai dari hulu Sungai Cileungsi hingga memasuki wilayah administrasi Kabupaten Bogor.
Dalam penelusuran tersebut, tim menemukan indikasi perubahan warna air Sungai Cileungsi menjadi hitam. Temuan itu kemudian ditindaklanjuti dengan pengamatan di sejumlah titik aliran sungai, termasuk pada saluran-saluran yang diduga berpotensi menjadi jalur masuk air limbah ke badan sungai.
DLH Ambil Sampel Air untuk Uji Laboratorium
Sebagai bagian dari proses investigasi, UPTD Laboratorium DLH Kota Bekasi melakukan pengambilan sampel air Sungai Cileungsi.
Sampel tersebut akan dianalisis guna mengetahui kualitas air, mengidentifikasi karakteristik pencemar, serta memperoleh data ilmiah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan sumber dugaan pencemaran.
DLH: Indikasi Awal Mengarah ke Wilayah Hulu
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengatakan hasil investigasi awal menunjukkan adanya indikasi bahwa sumber pencemaran berasal dari wilayah hulu. Namun demikian, pihaknya masih menunggu hasil analisis laboratorium untuk memastikan sumber pencemar secara ilmiah.
“Berdasarkan hasil penelusuran lapangan, indikasi awal menunjukkan bahwa sumber pencemaran berasal dari wilayah hulu. Namun demikian, kami tetap melakukan verifikasi melalui pengambilan sampel dan analisis laboratorium untuk memastikan sumber pencemar secara ilmiah,” ujar Kiswatiningsih.
Ia menambahkan, DLH Kota Bekasi selama ini terus melakukan monitoring dan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan di kawasan perbatasan maupun sepanjang sempadan Kali Bekasi guna memastikan kepatuhan terhadap ketentuan pengelolaan lingkungan hidup.
Hasil Uji Laboratorium Jadi Dasar Tindak Lanjut
DLH Kota Bekasi menegaskan investigasi akan terus dilakukan hingga sumber dugaan pencemaran dapat dipastikan. Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah lanjutan, termasuk koordinasi dengan pemerintah daerah maupun instansi berwenang apabila sumber pencemaran berada di luar wilayah administrasi Kota Bekasi.
Kolaborasi DLH dan KP2C Perkuat Pengawasan Sungai
Melalui kolaborasi bersama KP2C, DLH Kota Bekasi berkomitmen memperkuat pengawasan kualitas air sungai dan merespons cepat setiap laporan masyarakat terkait dugaan pencemaran lingkungan.
Upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen menjaga kelestarian Kali Bekasi sebagai salah satu sumber daya air strategis yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat serta keseimbangan ekosistem di wilayah Bekasi.
(Red)

