REKAN pelayanan Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang berperan dalam pelayanan promotif dan preventif. (Sumber: Dok./Ilustrasi.)
REKAN Indonesia Sumatera Utara mendorong penguatan Puskesmas melalui layanan preventif, deteksi dini, pemanfaatan data, dan sistem rujukan yang tetap mengutamakan keselamatan pasien. Berikut 5 Langkah Puskesmas yang Didorong REKAN Indonesia Sumut.
-
Memperkuat edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Meningkatkan deteksi dini berbagai penyakit.
Memetakan persoalan kesehatan berbasis data.
Memperkuat pengendalian faktor risiko dan penyakit.
Mengintegrasikan pelayanan Puskesmas dan rumah sakit.
KPW REKAN Indonesia Sumatera Utara mendorong Puskesmas memperkuat pelayanan promotif dan preventif berbasis data untuk mengantisipasi meningkatnya beban pelayanan rumah sakit tanpa membatasi hak pasien memperoleh rujukan.
Apa yang Perlu Diketahui?
REKAN Indonesia Sumatera Utara mendorong Puskesmas memperkuat pencegahan, deteksi dini, pemanfaatan data, dan pelayanan primer. Penguatan tersebut diharapkan membantu mengantisipasi peningkatan beban rumah sakit, dengan tetap menjamin akses pasien terhadap rujukan sesuai kondisi medis.
Editorial Note: Artikel ini telah melalui proses penyuntingan dan peninjauan oleh tim redaksi Mediarjn.com.
REKAN Indonesia Sumatera Utara mendorong Puskesmas memperkuat layanan promotif dan preventif untuk mengantisipasi lonjakan pasien rumah sakit.
Medan, Mediarjn.com – KPW REKAN Indonesia Sumatera Utara mendorong seluruh Puskesmas memperkuat pelayanan promotif dan preventif untuk mengantisipasi meningkatnya beban pelayanan di rumah sakit.
Ketua KPW REKAN Indonesia Sumatera Utara, Ikoriansyah, menyampaikan dorongan tersebut melalui rilis yang diterima kru media pada Sabtu (26/9/2026). Menurutnya, Puskesmas memiliki posisi strategis sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama karena berhadapan langsung dengan masyarakat.
Ikoriansyah mengatakan Puskesmas tidak cukup hanya memberikan pelayanan ketika masyarakat sudah mengalami gangguan kesehatan. Fasilitas kesehatan tingkat pertama itu juga perlu aktif melakukan pencegahan, edukasi, pemantauan, dan deteksi dini terhadap berbagai persoalan kesehatan di wilayah kerjanya.
“Ketika terjadi over kapasitas pasien di sejumlah rumah sakit, kita harus memperkuat pelayanan dari tingkat paling dasar. Puskesmas harus mengambil langkah preventif yang tepat, terukur, dan berbasis kondisi masyarakat di wilayah kerjanya,” ujar Ikoriansyah.
Puskesmas Diminta Berbasis Data
Ikoriansyah menjelaskan, penguatan layanan promotif dan preventif dapat dilakukan melalui edukasi kesehatan masyarakat, deteksi dini penyakit, pemantauan kondisi kesehatan, pengendalian faktor risiko, imunisasi, pengendalian penyakit, serta kegiatan kesehatan berbasis wilayah.
Menurut dia, langkah tersebut memungkinkan Puskesmas menemukan berbagai persoalan kesehatan sejak awal. Dengan deteksi dan penanganan lebih cepat, masyarakat dapat memperoleh intervensi sesuai kebutuhan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat dan membutuhkan pelayanan tingkat lanjut.
Selain memperkuat kegiatan preventif, REKAN Indonesia Sumatera Utara menilai Puskesmas perlu memanfaatkan data kesehatan secara akurat.
Data tersebut, kata Ikoriansyah, dapat membantu Puskesmas memetakan persoalan kesehatan yang paling banyak muncul di wilayah masing-masing. Dengan demikian, pemerintah dan pengelola layanan kesehatan dapat menyusun program yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Preventif tidak boleh hanya menjadi kegiatan rutin. Harus ada pemetaan masalah, data yang jelas, intervensi yang tepat, kemudian dilakukan evaluasi. Dengan begitu, Puskesmas benar-benar menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat,” katanya.
Penguatan Puskesmas Bukan Pembatasan Rujukan
REKAN Indonesia Sumatera Utara juga menegaskan bahwa upaya mengurangi beban rumah sakit tidak boleh diterjemahkan sebagai pembatasan hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan.
Pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan, menurut Ikoriansyah, tetap harus mendapatkan penanganan dan rujukan sesuai kondisi medis serta ketentuan sistem rujukan yang berlaku.
Ia menekankan keselamatan pasien harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan pelayanan kesehatan.
“Kita tidak ingin persoalan over kapasitas rumah sakit diselesaikan dengan cara mengurangi akses pasien. Yang harus diperkuat adalah sistemnya. Puskesmas diperkuat, pelayanan primer diperkuat, rumah sakit juga harus diperkuat kapasitasnya. Semuanya harus berjalan dalam satu sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi,” tegas Ikoriansyah.
Pemerintah Diminta Evaluasi Beban Pelayanan
REKAN Indonesia Sumatera Utara selanjutnya mendorong pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan mengevaluasi kapasitas serta beban pelayanan secara menyeluruh.
Evaluasi tersebut mencakup pelayanan mulai dari tingkat Puskesmas hingga rumah sakit. Langkah itu dinilai penting agar pemerintah dapat melihat kebutuhan pelayanan kesehatan secara lebih utuh, termasuk potensi peningkatan kunjungan dan rujukan pasien.
Ikoriansyah berharap penguatan layanan promotif dan preventif menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mengantisipasi peningkatan beban rumah sakit.
“Pencegahan harus diperkuat sebelum rumah sakit menghadapi lonjakan pasien. Pelayanan kesehatan yang kuat dimulai dari Puskesmas yang aktif, responsif, berbasis data, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.”
Dengan pendekatan tersebut, REKAN Indonesia Sumatera Utara mendorong penguatan pelayanan kesehatan dari tingkat paling dasar tanpa mengurangi hak pasien untuk memperoleh pelayanan lanjutan ketika kondisi medis memang membutuhkan rujukan.
(BMH)

