Memuat berita terbaru...  

Media Rubrik Jurnal Nusantara - Inspiratif - Inovatif - Kompetitif"
Slider Banner HUT RI 80  
   
  Drs. Boan. M. Pd. Ketua MKKS SMKN Kota Bekasi  Drs. H. Ahmad Tajiri. MA. Ketua Sr 05 SMPN Kab Bekasi Waluyo, M.SI. Kepala SMAN 05 KOTA BEKASi DIDI Kepala MKKS SMAN Kabupaten Bekasi quotes Jurnalistik HUT KEJAKSAAN RI 80 BANNER 000    

Prof. Sutan Nasomal Desak Pemerintah Hentikan Program MBG demi Keselamatan Pelajar

Program MBG berhenti demi selamatkan pelajar Indonesia dari ancaman keracunan massal.
Program MBG berhenti demi selamatkan pelajar Indonesia dari ancaman keracunan massal.

Program Bergizi Gratis Dinilai Positif, Namun Berpotensi Membahayakan

Jakarta, – Mediarjn.com Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto menuai sorotan. Meski dipandang sebagai bentuk kepedulian negara terhadap generasi muda, sejumlah kasus dugaan keracunan siswa usai mengonsumsi MBG menimbulkan keprihatinan serius.

Pakar Hukum Pidana Internasional sekaligus Ekonom, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH., menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah tegas agar niat baik Presiden tidak berubah menjadi masalah besar di lapangan.

Mengapa Program MBG Perlu Dikaji Ulang?

Menurut Sutan, tujuan program MBG sangat mulia karena lahir dari ketulusan hati Presiden Prabowo untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Namun, pelaksanaan di lapangan tidak jarang menimbulkan masalah serius.

“Jangan sampai program yang berniat positif justru berubah menjadi program yang menyengsarakan. Korban keracunan hingga ada yang meninggal harus dicegah. Presiden perlu menugaskan Menteri Kesehatan dan pakar gizi untuk mengevaluasi program ini,” tegas Sutan saat dihubungi awak media, Rabu (24/9/2025).

Fakta Keracunan Pelajar Akibat MBG

Sutan mengungkapkan, laporan dugaan keracunan akibat MBG sudah sering terjadi di berbagai daerah. Beberapa makanan yang dibagikan disebut-sebut dalam kondisi basi, bahkan ditemukan serangga atau ulat di dalamnya.

“Kasusnya sudah ratusan ribu bila ditotal dari berbagai daerah. Bahkan sampai masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) yang mengancam nyawa anak-anak,” ungkapnya.

Risiko Besar di Daerah Terpencil

Kekhawatiran semakin besar jika kasus keracunan terjadi di wilayah pedalaman yang jauh dari fasilitas kesehatan. Sutan mencontohkan, akses ke puskesmas atau rumah sakit bisa mencapai 5–10 jam perjalanan.

“Bisa dibayangkan bagaimana nasib nyawa anak-anak bila keracunan massal terjadi di daerah yang jauh dari layanan medis,” tambahnya.

Alternatif Solusi Selain MBG

Meski mengapresiasi niat baik Presiden, Sutan mendesak agar program MBG dihentikan sementara. Sebagai gantinya, ia mengusulkan program kesehatan berbasis sekolah dengan melibatkan tenaga medis secara langsung.

“Lebih baik negara mengirim dokter ke sekolah-sekolah untuk memeriksa kesehatan anak-anak. Itu lebih bermanfaat dan minim risiko,” ucap Sutan.

Penegasan Prof. Sutan Nasomal

Sutan menegaskan, penghentian program MBG bukan bentuk penolakan terhadap perhatian Presiden, melainkan langkah menyelamatkan nama baik pemerintah sekaligus nyawa generasi bangsa.

“Sudah tidak perlu ada evaluasi panjang. Hentikan program MBG demi keselamatan anak-anak Indonesia. Kita harus mencari cara lain agar pelajar tetap sehat dan cerdas tanpa harus mempertaruhkan nyawa mereka,” pungkasnya.


Editor: Rd Ahmad Syarif 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *