Pelajar dari berbagai SMP mengikuti Lomba Menulis Aksara Batak yang digelar DKD Kabupaten Toba di Kompleks Tugu D.I. Panjaitan, Balige, Sabtu (31/10/2026). (Sumber: Dok. MC Toba.)
Lomba menulis aksara Batak di Toba melibatkan 51 pelajar dari 26 SMP. Simak tujuan, peserta, teknis perlombaan, dan pesan pelestarian budaya dari para penyelenggara. Berikut 5 Fakta Lomba Menulis Aksara Batak di Toba yang Diikuti 51 Pelajar.
DKD Toba gelar lomba menulis aksara Batak tingkat SMP.
Sebanyak 51 pelajar dari 26 SMP ikut berkompetisi.
Peserta mengalihaksarakan cerpen berbahasa Batak.
Panitia memberikan waktu 30 menit untuk menyelesaikan lomba.
DKD dan Pemkab Toba dorong pelestarian budaya Batak.
DKD Kabupaten Toba melibatkan 51 pelajar dari 26 SMP dalam lomba menulis aksara Batak untuk memperkuat pelestarian budaya dan mengenalkan warisan leluhur kepada generasi muda. RINGKASAN BERITA Lomba menulis aksara Batak tingkat SMP yang digelar DKD Kabupaten Toba di Balige, Sabtu (31/10/2026), diikuti 51 pelajar dari 26 sekolah. Peserta mengalihaksarakan cerpen berbahasa Batak dari huruf Latin ke aksara Batak dalam waktu 30 menit. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya Batak agar tetap dikenal generasi muda.
Apa yang Perlu Diketahui?
Lomba menulis aksara Batak tingkat SMP yang digelar DKD Kabupaten Toba di Balige, Sabtu (31/10/2026), diikuti 51 pelajar dari 26 sekolah. Peserta mengalihaksarakan cerpen berbahasa Batak dari huruf Latin ke aksara Batak dalam waktu 30 menit. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya Batak agar tetap dikenal generasi muda.
Editorial Note: Artikel ini telah melalui proses penyuntingan dan peninjauan oleh tim redaksi Mediarjn.com.
Galery Foto: Pelajar mengikuti lomba menulis aksara Batak tingkat SMP di Kabupaten Toba.
DKD Kabupaten Toba menggelar lomba menulis aksara Batak dan pagelaran budaya untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.
TOBA, MEDIARJN.COM – Sebanyak 51 pelajar dari 26 SMP di Kabupaten Toba, Sumatera Utara, mengikuti Lomba Menulis Aksara Batak yang diselenggarakan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Toba, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kompleks Tugu D.I. Panjaitan, Balige, tersebut juga dirangkai dengan pagelaran budaya. DKD menggelar kegiatan ini sebagai upaya melestarikan warisan leluhur sekaligus menumbuhkan minat dan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya Batak Toba.
Dalam perlombaan itu, panitia meminta peserta mengalihaksarakan cerpen berbahasa Batak yang semula menggunakan huruf Latin ke dalam aksara Batak. Peserta mendapat waktu 30 menit untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Ketua Panitia Pelaksana, Batara Tambunan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak semata-mata bertujuan mencari pemenang. Lebih dari itu, DKD ingin mendorong pelestarian seni dan budaya Batak Toba, pembinaan sanggar seni, grup vokal, serta pengembangan kemampuan para pelaku seni.
“Termasuk mengembangkan minat dan bakat kemampuan para pelaku seni dan meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Batak,” kata Batara dalam laporan panitia.
Aksara Batak Dinilai Perlu Mendapat Perhatian Generasi Muda
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba, Rikardo Hutajulu, yang hadir mewakili Bupati Toba Effendi Sintong P. Napitupulu, mengapresiasi penyelenggaraan lomba dan pagelaran budaya tersebut.
Menurut Rikardo, kegiatan seperti ini dapat membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan sekaligus melestarikan kebudayaan lokal. Ia menegaskan bahwa warisan leluhur perlu dijaga agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
“Ini sangat membantu kami dalam mengembangkan dan melestarikan kebudayaan. Warisan leluhur harus kita lestarikan,” ujar Rikardo.
Ia juga menyoroti pentingnya aksara Batak sebagai bagian dari kekayaan identitas masyarakat. Menurutnya, tidak semua suku di dunia memiliki bahasa dan sistem aksara sendiri.
“Batak adalah salah satu suku yang mempunyai aksara dan bahasa, ini harus kita lestarikan. Di tengah kemajuan teknologi ini perlu kita tekankan pada anak-anak agar budaya kita tidak tergerus,” katanya.
Rikardo berharap DKD Kabupaten Toba terus berperan membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan minat anak-anak terhadap seni dan budaya, termasuk melalui kegiatan edukatif dan pagelaran seni.
DKD Dorong Budaya Batak Dikenal hingga Internasional
Ketua DKD Kabupaten Toba, Franshendrik Tambunan, yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Toba, menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga jati diri masyarakat dan mempertahankan warisan leluhur.
Ia mengingatkan bahwa aksara Batak bukan sekadar kumpulan simbol atau bentuk tulisan, melainkan menyimpan nilai dan pengetahuan yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kita harus menyadari bahwa aksara Batak bukan sekadar simbol, tetapi di dalamnya ada pengetahuan. Jangan sampai kita lebih mengenal budaya lain namun justru lupa dengan budaya kita sendiri,” ujar Franshendrik.
Ia mengajak masyarakat menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum untuk membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya Batak.
“Semua kekayaan ini harus kita rawat, kita jaga, kita promosikan hingga ke dunia internasional,” katanya sebelum membuka kegiatan secara resmi.
Peserta Alihaksarakan Cerpen dalam Waktu 30 Menit
Batara Tambunan menjelaskan, panitia menggunakan metode penulisan ulang cerpen berbahasa Batak untuk menguji kemampuan peserta mengenali dan menuliskan aksara Batak.
Panitia terlebih dahulu menyiapkan cerpen berbahasa Batak menggunakan huruf Latin. Selanjutnya, peserta mengalihaksarakan teks tersebut ke dalam aksara Batak dalam waktu yang telah ditentukan.
“Jadi kita buat cerpen berbahasa Batak tetapi kita tulis dengan huruf Latin. Inilah yang kemudian disadur ulang oleh peserta ke dalam aksara Batak dan akan dinilai oleh para juri yang berkompeten,” kata Batara kepada awak media.
Keikutsertaan 51 pelajar dari 26 SMP tersebut menunjukkan adanya ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali warisan budaya daerah melalui kegiatan pendidikan dan seni.
Namun, pelestarian aksara Batak tentu tidak cukup berhenti pada perlombaan seremonial. Upaya berkelanjutan melalui pembelajaran, pembinaan, dan pemanfaatan aksara Batak dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal generasi mendatang.
(Red)