Wabup Toba Soroti Gereja yang Ditinggalkan Jemaat, Pemimpin Diminta Jadi Teladan

Wakil Bupati Toba Audi Murphy O. Sitorus menyampaikan sambutan dalam Seminar Kepemimpinan Gereja bertema “Pemimpin yang Menjadi Teladan” di Aula Hotel Barita Land, Balige, Selasa (27/10/2026). (Sumber: MC Toba).

 

Seminar Kepemimpinan Gereja di Toba membahas keteladanan, kerendahan hati, dan pentingnya menjaga kepercayaan jemaat. 3 Pesan Penting Seminar Kepemimpinan Gereja di Kabupaten Toba.
  • Wabup Toba soroti fenomena gereja yang ditinggalkan jemaat.
  • Ketua BKAG ingatkan gembala gereja tentang kerendahan hati.
  • Pemimpin gereja diminta hadirkan keteladanan di tengah masyarakat.
Wakil Bupati Toba Audi Murphy O. Sitorus mengingatkan pemimpin gereja agar mengutamakan keteladanan, kerendahan hati, dan pelayanan yang relevan untuk menjaga kepercayaan jemaat. Pesan tersebut disampaikan dalam Seminar Kepemimpinan Gereja di Balige, Selasa (27/10/2026).
Apa yang Perlu Diketahui?
Seminar Kepemimpinan Gereja di Balige menjadi momentum bagi Wakil Bupati Toba Audi Murphy O. Sitorus untuk mengingatkan pentingnya keteladanan pemimpin gereja. Ketua BKAG Toba juga mengajak para gembala gereja mengedepankan kerendahan hati dan pelayanan nyata bagi masyarakat.
✓
Editorial Note: Artikel ini telah melalui proses penyuntingan dan peninjauan oleh tim redaksi Mediarjn.com.

Galery Foto: Wakil Bupati Toba Audi Murphy O. Sitorus dalam Seminar Kepemimpinan Gereja di Balige.

1 / 7

Audi Murphy O. Sitorus menilai keteladanan dan kemampuan pemimpin gereja membangun kedekatan dengan jemaat menjadi kunci menjaga kepercayaan umat. Pesan itu disampaikan dalam Seminar Kepemimpinan Gereja di Balige.

TOBA, MEDIARJN.COM – Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, menyoroti fenomena sejumlah gereja di Eropa yang ditinggalkan jemaat hingga beralih fungsi. Ia mengingatkan para pemimpin gereja agar tidak hanya mengandalkan posisi dan kemampuan berkhotbah, tetapi juga menunjukkan keteladanan serta menghadirkan pelayanan yang relevan bagi umat.

Pesan tersebut disampaikan Audi saat menghadiri Seminar Kepemimpinan Gereja bertema “Pemimpin yang Menjadi Teladan” di Aula Hotel Barita Land, Balige, Selasa (27/10/2026).

Menurut Audi, setiap orang menginginkan pemimpin yang mampu menjadi panutan, termasuk dalam lingkungan gereja. Karena itu, pemimpin gereja perlu menjaga kepercayaan jemaat melalui sikap, perilaku, dan pelayanan sehari-hari.

“Kami pikir ini yang mau dibangun dalam kegiatan hari ini agar kita terbebas dari penilaian negatif oleh umat kita sendiri,” kata Audi.

Gereja Tidak Bisa Mengandalkan Kekuasaan

Audi menjelaskan bahwa kepemimpinan gereja memiliki karakter berbeda dengan kepemimpinan dalam lembaga pemerintahan.

Pemerintah memiliki peraturan dan kewenangan untuk mengatur masyarakat. Sebaliknya, gereja tidak mempunyai instrumen pemaksaan agar jemaat tetap mengikuti pelayanan dan ajaran gereja.

“Gereja tidak punya alat untuk mengharuskan jemaat tunduk. Beda dengan lembaga negara. Pemerintah punya alat melalui peraturan. Maka apa yang dapat dilakukan oleh gereja agar jemaat tetap setia? Salah satunya adalah menjadi teladan di tengah jemaat dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pemimpin gereja perlu menghadirkan sesuatu yang menarik bagi jemaat. Dengan demikian, gereja tidak hanya menjadi tempat menjalankan kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang yang mampu membangun kedekatan, kepedulian, dan kehidupan sosial umat.

Ketua BKAG Ingatkan Pemimpin Gereja Tidak Sombong

Pesan mengenai keteladanan juga disampaikan Ketua Badan Kerja Sama Antar Gereja (BKAG) Kabupaten Toba, Pdt. Marganda Lubis.

Ia mengingatkan para pemimpin dan gembala gereja agar tidak terjebak dalam kesombongan. Menurutnya, seorang pelayan Tuhan harus menunjukkan kerendahan hati yang berlandaskan iman kepada Kristus.

“Jangan ada yang menyombongkan diri. Mari kita tundukkan hati kita yang melekat pada Kristus untuk keteladanan. Bukan hanya pintar berkhotbah, tetapi masyarakat harus melihat kerendahan hati kita,” ungkap Marganda.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan gereja tidak cukup diukur dari kemampuan menyampaikan khotbah. Jemaat dan masyarakat juga membutuhkan contoh nyata melalui sikap rendah hati, kepedulian, serta tindakan sehari-hari.

Keteladanan Harus Terlihat di Tengah Masyarakat

Sementara itu, Pdt. Mangaranap Sinaga, S.Th., M.Th., bersama jajaran panitia menjelaskan bahwa seminar tersebut bertujuan memperkuat keteladanan para hamba Tuhan, baik dalam pelayanan di gereja maupun kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, pemimpin gereja harus mampu membawa nilai-nilai pelayanan hingga menyentuh kehidupan masyarakat luas.

“Bagaimana agar Kabupaten Toba yang kita cintai ini maju dengan bergandengan tangan,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus mengajak para pemimpin gereja membangun kolaborasi dan mengambil peran dalam mendorong kemajuan Kabupaten Toba.

Hadirkan Pembicara dari Bamagnas Sumatera Utara

Seminar Kepemimpinan Gereja ini menghadirkan Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (Bamagnas) Sumatera Utara, Pdt. Dr. Ruben Yonatan Silalahi, M.Th., sebagai pembicara.

Kegiatan tersebut diikuti para pemimpin gereja dari berbagai denominasi di Kabupaten Toba.

Melalui seminar bertema “Pemimpin yang Menjadi Teladan”, para peserta diharapkan semakin memahami pentingnya integritas, kerendahan hati, dan kepedulian sosial dalam menjalankan kepemimpinan gereja.

Pada akhirnya, kepercayaan jemaat tidak hanya dibangun melalui khotbah dan kegiatan seremonial, tetapi juga melalui keteladanan yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.


(Red)

Audi Murphy O. SitorusBaligeBKAG TobaGerejaKabupaten Toba.Kepemimpinan GerejaMarganda LubisRuben Yonatan SilalahiWakil Bupati Toba