Pangan Lokal Jadi Andalan, Kota Bekasi Dorong Menu Bergizi yang Tak Harus Mahal

Wali Kota Bekasi menghadiri Lomba Cipta Menu Berdaya Lokal dengan tema menu sehat berbasis ubi dan protein nabati di Kota Bekasi. (Sumber: Dokumentasi Pemkot Bekasi.)

 

Dari ubi, protein nabati hingga makanan tradisional, Pemkot Bekasi mendorong inovasi pangan lokal sebagai bagian dari upaya membangun pola makan sehat, bergizi, dan terjangkau. 5 Pesan Pemkot Bekasi soal Pangan Lokal, Gizi, dan Menu MBG.
  • Pemkot Bekasi mendorong inovasi pangan lokal untuk meningkatkan kualitas gizi.
  • Konsumsi protein menjadi perhatian dalam mendukung tumbuh kembang anak.
  • Sukun didorong sebagai salah satu alternatif sumber karbohidrat lokal.
  • Pemkot mengajak masyarakat kembali mengenal makanan tradisional.
  • Program Gebrak Pasar akan mendorong konsumsi bahan pangan segar sekaligus mendukung pasar rakyat.
Pemkot Bekasi mendorong inovasi pangan lokal berbasis ubi dan protein nabati untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Upaya tersebut juga dikaitkan dengan program MBG, pengenalan makanan tradisional, serta Gebrak Pasar yang mendorong masyarakat memilih bahan pangan segar.
Apa yang Perlu Diketahui?
Pemkot Bekasi mendorong masyarakat memanfaatkan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Ubi, protein nabati, sukun, dan makanan tradisional menjadi bagian dari upaya tersebut. Pemerintah juga menekankan pengawasan menu MBG serta akan menggelar Gebrak Pasar untuk mendorong konsumsi pangan segar dan mendukung pasar rakyat.
✓
Editorial Note: Artikel ini telah melalui proses penyuntingan dan peninjauan oleh tim redaksi Mediarjn.com.

Galery Foto: Wali Kota Bekasi dorong inovasi pangan lokal untuk menu bergizi


Pemkot Bekasi mendorong pemanfaatan ubi, protein nabati, dan pangan lokal untuk menghadirkan menu sehat, bergizi, serta terjangkau bagi keluarga.

Bekasi, Mediarjn.com – Pemerintah Kota Bekasi mendorong inovasi pangan lokal untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Lomba Cipta Menu Berdaya Lokal dengan tema “Menu Emas Harga Pas untuk Balita Sehat: Kreasi Menu B25A Berbasis Ubi dan Protein Nabati”.

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Bekasi menekankan pentingnya meningkatkan konsumsi protein, terutama untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Menurutnya, pemenuhan gizi tidak cukup hanya dengan memperhatikan jumlah makanan. Masyarakat juga perlu memastikan makanan yang dikonsumsi memiliki kandungan nutrisi yang seimbang.

“Konsumsi protein harus terus ditingkatkan. Kita perlu membangun kesadaran bahwa makanan bergizi tidak harus mahal. Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah didapat, masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga,” ujar Wali Kota Bekasi.

Dorong Pangan Lokal sebagai Alternatif

Wali Kota Bekasi juga mendorong masyarakat mengembangkan sumber pangan lokal sebagai alternatif bahan pangan utama.

Salah satu upaya yang pernah didorong Pemerintah Kota Bekasi adalah penguatan penanaman sukun sebagai sumber karbohidrat lokal. Pemerintah berharap pemanfaatan pangan lokal tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan berbasis terigu.

Menurut Wali Kota, masyarakat juga perlu membangun pola hidup sehat melalui keseimbangan antara asupan makanan dan aktivitas fisik.

Ia menyoroti perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin banyak mengonsumsi makanan cepat saji dan menggunakan gadget dalam waktu berlebihan.

“Lifestyle sehat itu bukan hanya soal makanan, tetapi juga bagaimana kita bergerak dan menjaga keseimbangan hidup. Penggunaan karbohidrat yang berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik perlu kita perbaiki bersama,” katanya.

Ajak Masyarakat Kembali ke Makanan Tradisional

Pemkot Bekasi juga mendorong masyarakat kembali mengenal makanan tradisional yang menggunakan bahan segar dan memiliki komposisi gizi beragam.

Wali Kota mencontohkan tahu campur khas Jawa Timur sebagai salah satu makanan yang mengombinasikan bahan nabati dari tahu dengan sumber pangan lainnya.

“Generasi sekarang perlu kembali mengenal makanan tradisional. Banyak makanan daerah yang sebenarnya memiliki nilai gizi baik karena menggunakan bahan segar dan berkualitas,” jelasnya.

Menurutnya, makanan lokal tidak harus identik dengan harga mahal. Kreativitas dalam mengolah bahan pangan yang tersedia di sekitar masyarakat dapat menghasilkan menu yang sehat sekaligus terjangkau.

Menu Lokal Didorong Masuk dalam Inovasi MBG

Pemkot Bekasi juga ingin memastikan program pemenuhan gizi masyarakat berjalan secara terintegrasi. Pemerintah tidak hanya mengandalkan lomba cipta menu, tetapi juga mendorong edukasi, penyediaan pangan, hingga pengawasan.

Dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG), Wali Kota menekankan pentingnya pengawasan secara berkelanjutan. Pengawasan diperlukan agar menu yang diberikan tetap memenuhi standar gizi yang ditetapkan.

Lomba kreasi menu MBG menjadi salah satu sarana untuk mendorong masyarakat menciptakan inovasi makanan sehat berbasis potensi pangan lokal.

“Menu-menu kreatif hasil karya masyarakat Kota Bekasi nantinya dapat dikembangkan dan dipublikasikan sebagai inspirasi bersama. Kita ingin masyarakat ikut berperan dalam menciptakan menu sehat, bergizi, dan terjangkau,” ungkapnya.

Gebrak Pasar Jadi Agenda Berikutnya

Upaya mendorong konsumsi pangan lokal juga akan berlanjut melalui program Gebrak Pasar (Gerakan Kembali ke Pasar).

Pemkot Bekasi akan menggelar program tersebut pada Jumat mendatang. Melalui Gebrak Pasar, pemerintah ingin mengajak masyarakat memilih bahan pangan segar sekaligus mendukung keberadaan pasar rakyat.

Rangkaian kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa agenda pangan di Kota Bekasi tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan makan, tetapi juga menghubungkan aspek gizi, pangan lokal, gaya hidup sehat, pemberdayaan masyarakat, dan keberadaan pasar rakyat.

Dengan pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh, Pemkot Bekasi mendorong masyarakat membangun pola konsumsi yang lebih sehat tanpa mengabaikan faktor keterjangkauan.


(ADV)

Gebrak Pasargizi masyarakatKota BekasiMakan Bergizi GratisMBGmenu bergizipangan lokalPemkot Bekasiprotein nabatisukunubiUMKM pangan